Tampilkan postingan dengan label Religion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religion. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juni 2013

Artikel Buddhist

Pandangan Buddha Terhadap Pencipta
Oleh WLiu

"Ajaran Buddha sangat mengutamakan etika dan moralitas. Tanpa perlu diperintah2, umat Buddhis sejati mengembangkan cinta, belas kasih, kepedulian atas nama kemanusiaan. Karena setiap orang tidak mau menderita, maka jangan melakukannya kepada yang lain. Begitulah ajaran Buddha. Sangat Sederhana. "

Karena pertanyaan mengenai pencipta, alam semesta, ketuhanan selalu ditanyakan, maka dibuat khusus untuk menjawab pertanyaan ini. Pertanyaan ini juga sejalan dengan Pandangan Buddha sehingga tidak terjadi Pandangan Salah.

Dalam ajaran Buddha, manusai TIDAK diciptakan oleh Tuhan atau dewa atau siapapun.

Dalam ajaran Buddha, kehidupan TIDAK ditentukan atau diatur oleh sesuatu (dewa, Tuhan, Buddha atau siapapun)

Buddha bukan Tuhan.

Buddha adalah seorang manusia yang mencapai penerangan sempurna, disebut juga mencapai Nibbana artinya bebas dari segala pikiran yang penuh dengan keserakahan, kesombongan, kemelekatan, kebencian, ketidaktahuan, kekelirutahuan.

Nibbana bukanlah suatu alam, tetapi suatu kondisi batin (kesadaran atau pikiran) yang sadar setiap saat, tanpa kekotoran batin. Kekotoran batin mencakup semua pikiran yang penuh dengan keserakahan, kebencian dan ketidaktahuan/kekelirutahuan.

Dengan kata lain, mencapai penerangan sempurna artinya berbahagia setiap saat, setiap momen, kedamaian sejati setiap saat.

Alam semesta menurut ajaran Buddha tanpa awal dan akhir, selalu berproses, muncul - lenyap, muncul - lenyap, dan seterusnya.

Manusia muncul dari Evolusi sejalan dengan Sains.

=========

Untuk merujuk sumber kitab bahwa alam semesta dan kehidupan tidak diciptakan atau diatur oleh tuhan,

Pandangan Sang Buddha mengenai ada tidaknya pencipta alam semesta :

Salah satu dari Mahayana Sutra, yaitu Lankavatara Sutra, berisi dialog antara Sang Buddha dengan Mahamati. Dalam dialog tersebut, Sang Buddha menyatakan bahwa konsep Tuhan yang berdaulat, atau Atman adalah imajinasi belaka atau perwujudan dari pikiran dan bisa menjadi halangan menuju kesempurnaan karena ini membuat kita menjadi terikat dengan konsep Tuhan Maha Pencipta. Kutipan dari sutra tersebut sebagai berikut:
"Semua konsep seperti penyebab, suksesi, atom, unsur-unsur dasar, yang membuat kepribadian, jiwa pribadi, roh tertinggi, Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Pencipta, adalah imajinasi belaka dan perwujudan dari pemikiran manusia.
Tidak, Mahamati, doktrin Tathágata dari rahim ke-Tathágata-an tidaklah sama dengan filosofi Atman."
(Lankavatara sutra, bab VI)

"Asumsi bahwa suatu Tuhan (isvara) adalah penyebab, dan lain sebagainya, bersandar atas kepercayaan salah dalam suatu diri yang kekal;
tetapi kepercayaan itu haruslah ditinggalkan, jikalau seseorang sudah dengan jelas mengerti bahwa segala sesuatu adalah tunduk pada penderitaan.
[Vasubhandu, Abhidharmakosa, 5, 8 (vol. IV, p. 19); Sphutartha, p. 445,26.]

“Bila ada Sang Maha Kuasa yang dapat mendatangkan bagi setiap mahluk ciptaanya kebahagiaan atau penderitaan, perbuatan baik maupun jahat, maka yang maha kuasa itu diliputi dosa [kebencian/kekejaman], sedangkan manusia hanya menjalankan perintahnya saja [karena sudah diatur].”
( Mahabodhi Jataka No.528 )

“Apabila, O para bhikkhu, para makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issara-nimmanahetu), maka para Nigantha (petapa telanjang) ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan.”
(Devadaha Sutta, Majjhima Nikaya 101, Tipitaka Pali).

Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? Saya menganggap Brahma adalah ketidakadilan. Yang membuat dunia yang diatur keliru.” [Bhuridatta Jataka, Jataka 543]

Penjelasan:
Dalam ajaran Buddha, tidak dikenal adanya pencipta atau pengatur kehidupan seperti yang tercatat dalam kitab tersebut. Karena ketidaktahuan atau ketakutan, pada awalnya evolusi manusia memunculkan konsep pencipta atau pengatur kehidupan.

Semua yang terjadi ada sebab dan ada akibat, inilah Hukum Karma.
Begitu pula ada Hukum Fisika (utu niyama), Hukum Biologis (bijaniyama), dll

=======

Ketuhanan dalam agama Buddha???

Karena banyak yang bertanya mengenai tuhan dalam agama Buddha, sekali lagi diberi penjelasan berikut, mudah2an jelas

1. Jika tuhan diartikan sebagai pencipta, agama Buddha jelas menolak tuhan (artinya tidak ada tuhan seperti itu dalam ajaran Buddha)

2. Jika tuhan diartikan sebagai pengatur kehidupan manusia, agama Buddha menolak tuhan seperti itu (artinya menurut agama Buddha tidak ada pengatur kehidupan manusia/makhluk hidup.) Menurut ajaran Buddha, ada sebab ada akibat.contoh: apabila saya mati, tentu ada sebab dan kondisi2 yg mendukung. misal karma buruk masa lalu didukung dengan kondisi tidak menjaga keseahatan, didukung dengan sikap hidup yang tidak sehat, dll. jadi semua akibat yg terjadi ada sebab, seringkali kita tidak mengetahui sebabnya. sebagian orang karena tidak tahu kemudian mengatakan dewa/tuhan sebagai penyebab.)

3. Jika pengertian tuhan sebagai suatu pribadi (ada sosok), maka agama Buddha juga tidak sependat (artinya menurut agama Buddha, tidak ada yang seperti itu)

4. Jika konsep tuhan diartikan sebagai sesuatu yang tidak terpikir, tidak terjangkau pikiran, maka ada konsep ketuhanan seperti itu dalam agama Buddha, yaitu nibbana.

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa ketuhanan dalam agama Buddha TIDAK MENENTUKAN KEHIDUPAN MANUSIA dan TIDAK MENGATUR KEHIDUPAN MANUSIA/MAKHLUK HIDUP. jadi ketuhanan tersebut hanya sebagai tujuan (tujuan umat Buddha adalah nibbana).

Kesimpulan:
Dalam ajaran Buddha, yg namanya pencipta atau pengatur kehidupan cuma ilusi karena ketakutan, ketidaktahuan atau kekelirutahuan.

Walaupun demikian, ajaran Buddha sangat mengutamakan etika dan moralitas. Tanpa perlu diperintah2, umat Buddhis sejati mengembangkan cinta, belas kasih, kepedulian atas nama kemanusiaan. Karena setiap orang tidak mau menderita, maka jangan melakukannya kepada yang lain. Begitulah ajaran Buddha.
Sangat Sederhana.

======================

Tanya.
Apakah Agama Buddha terdapat manusia pertama ?

Jawab.
Sebenarnya tujuan Dhamma Ajaran Sang Buddha lebih cenderung dipergunakan untuk mengendalikan pikiran, ucapan, dan perbuatan. Dan, kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri ini sama sekali tidak ada hubungan langsung dengan pengetahuan tentang manusia pertama. Tanpa mengetahui manusia pertama sekalipun, seseorang bisa saja mencapai kesucian. Namun, dalam salah satu kesempatan, kepada mereka yang telah mencapai kemampuan batin dan latihan meditasi yang tekun sehingga mampu mengingat berkali-kali muncul dan kiamatnya bumi, barulah Sang Buddha menceritakan terjadinya manusia pertama. Cerita Sang Buddha hanya kepada meraka yang mampu mengingat terbentuk dan kiamatnya bumi ini agar ada orang yang bisa menyaksikan serta mengingat sendiri peristiwa yang disampaikan Sang Buddha. Tentu saja, sikap Sang Buddha ini berhubungan dengan pengertian dasar dalam Dhamma yaitu ’datang dan buktikan, bukan ‘datang dan percaya saja’.

Dalam kisah yang disampaikan oleh Sang Buddha, manusia pertama bukan hanya satu atau dua orang saja, melainkan banyak. Mereka bukan hasil ciptaan. Mereka merupakan hasil sebuah proses panjang bersamaan dengan proses terjadinya bumi beserta planet-planetnya. Seperti diketahui bahwa dalam pengertian Dhamma, tata surya seperti yang dihuni manusia saat ini bukan hanya satu melainkan lebih dari satu milyar jumlahnya. Masing-masing tata surya ketika kiamat akan terbentuk lagi. Pada saat terjadinya bumi ini. Datanglah makhluk-makhluk berupa cahaya dari tata surya yang lain. Mereka berproses bersamaan dengan proses pembentukan tata surya ini. Dalam proses tersebut mereka tertarik mencicipi dan mengkomsumsi sari bumi, sari tumbuhan dsb. Ketertarikan mereka menyebabkan tubuh cahaya menjadi redup dan mulai terjadilah proses pembentukan tubuh, jenis kelamin, persilangan serta keturunan. Dan, sekali lagi, manusia pertama karena merupakan hasil proses seperti ini, jumlahnya tidak bisa ditentukan lagi. Sangat banyak. Mereka berproses dan berevolusi secara lambat sampai membentuk manusia sekarang. Hanya saja, dalam Dhamma juga tidak membenarkan maupun menolak pandangan ilmu pengetahuan modern bahwa manusia berasal dari monyet. Sikap ini sehubungan dengan kepastian bahwa asal manusia dari monyet ataupun bukan sama sekali tidak ada kaitan dengan keberhasilan seseorang untuk mencapai kesucian ataupun Nibbana.

Sumber :
Booklet Talk-Show Bhante Uttamo
“ Musibah & Bencana di tahun 2012 ”

======================

Jika dunia ini segalanya Tuhan yang menentukan....

Renungan Puisi from Sefung

jika dunia ini segalanya tuhan yg menentukan
mungkin aku sebagai manusia
tidak perlu lelah merencanakan ini semua

biarpun direncanakan ataupun tidak direncanakan
semuanya dari awal sudah ditentukan

jika kebahagian dan penderitaan merupakan suatu kehendak
aku tidak akan perlu mencari lg dimana sumber kebahagian
yg bisa kuperoleh di dunia ini utk mengakhiri penderitaan
karena iman yg buta...

manusia tidak mau menerima suatu bukti kebenaran
maka selamanya dia akan terbelenggu oleh kebodohannya sendiri...

bila ia hanya percaya apa yg ia dengar dan ia baca
siang dan malam aku merenung
kenapa aku ada di dunia ini..

semuanya hanya menjawab karena aku adalah ciptaan tuhan.
jika manusia adalah ciptaanya

kenapa begitu byk belenggu penderitaan, kemiskinan, dan kebodohan...
aku bertanya tanya tapi tidak menemukan jawaban itu..

semua hanya bisa menjawab itulah cobaan....
atas dasar apa tuhan menguji dan mencobai manusia ?

apa karena ketidak tahuan tuhan itu.
waktu berlalu berkalpa-kalpa
dan saat ini aku menemukan jawabannya...

jika bukan karena Buddha
mungkin aku disini akan duduk pasrah menerima semua kehendak
tanpa perlu mencari penyebabnya
baik kebahagiaan ataupun penderitaan

jika itu adalah kehendak....
mungkin manusia yg terlahir sengsara
dikarenakan segala penderitaan
akan berkata tuhan adalah sumber malapetaka bagi mereka

karena sabda Buddha ada sekarang
membuat pikiran ini terbuka untuk melangkah
dihari depan yg lebih baik

terimakasih Buddha....
Engkaulah Guruku

Selasa, 28 Mei 2013

Sang Buddha Tidak Dapat Membantu Kita Untuk Terlahir di Alam Surga.


Sang Buddha Tidak Dapat Membantu Kita Untuk Terlahir di Alam Surga.


Ada seorang Kepala Desa dari suatu desa datang untuk berbicara pada Sang Buddha. Kepala desa tersebut berkata pada Sang Buddha bahwa di sana di sebelah Barat terdapat kumpulan Brahmana yang memiliki tradisi yang aneh.

Di samping tradisi memikul air, mandi di air untuk memurnikan diri mereka dan memuja api, ketika sanak keluarga mereka meninggal dunia, mereka segera membawa jasad tubuh keluar dari rumah, dan merentangkan jasad tersebut tinggi-tinggi di udara. Jasad tersebut dihadapkan ke langit dan mereka meneriaki nama dari orang yang meninggal tersebut dan menunjukkan dia jalan ke surga. Mereka percaya karena jasad tersebut menghadap langit, yang meninggal dapat melihat langit, dan ketika mereka meneriaki rohnya, secara otomatis, rohnya akan naik ke surga. Lalu kepala desa berkata mungkin Sang Buddha (yang memiliki kekuatan supranormal) dapat membawa setiap orang yang telah meninggal dunia untuk terlahir kembali di alam surga. (Ini adalah pertanyaan yang menarik karena bahkan sampai pada era yang moderen ini, orang-orang tertentu masih mempercayai Sang Buddha dapat membantu kita untuk terlahir kembali di alam surga).

Sang Buddha kemudian menjawab dengan sebuah perumpamaan;

Sang Buddha : “Andaikan seorang pria datang menuju ke tepi danau yang sangat dalam, dan memegang sebuah batu besar yang berat di kedua tangannya, dan kemudian melemparnya ke tengah danau. Sekarang, dikarenakan batunya mulai tenggelam ke dalam air, semua orang ramai berdatangan dan berteriak pada batu tersebut, memuji batu itu, meminta (Berdoa) batu tersebut untuk mengapung di permukaan dan mengapung menuju tepian. Apakah batunya dapat mengapung?”.

Kepala desa :” Itu tidak mungkin karena batunya berat, secara alamiah akan tenggelam ke dalam air”.

Sang Buddha : “ Dengan cara yang sama, andaikan seseorang telah melakukan banyak kejahatan, dia telah membunuh, mencuri, berasusila, berbohong dan sebagainya. Ketika dia meninggal dunia (dan kamma buruknya menarik dia ke bawah), orang ramai berdatangan dan meneriaki dia untuk pergi ke surga; mungkinkah ia dapat pergi ke sana?”

Kepala desa : “Itu tidak mungkin karena ia telah banyak melakukan kejahatan; sama kasusnya dengan batu tersebut, dia akan tenggelam menuju kelahiran kembali yang buruk”.

Kemudian Sang Buddha berkata :” Andaikan seseorang lainnya datang ke tepian danau yang dalam. Dia mengambil secangkir minyak dan melemparkan secangkir minyak itu ke tengah danau. Cangkirnya akan tenggelam tetapi minyaknya, karena ringan, akan mengapung di permukaan. Dikarenakan minyaknya mengapung di permukaan, orang berdatangan dan meneriaki minyaknya untuk tenggalam ke dalam air. Mungkinkah minyak tersebut dapat tenggelam?”.

Kepala desa :” Itu tidak mungkin karena minyaknya ringan, dan secara alami akan mengapung”.

Sang Buddha : “ Dengan cara yang sama, andaikan seseorang telah melakukan banyak kebajikan, tidak pernah melukai makhluk hidup, dan ketika saatnya tiba dia meninggal dunia. Jika banyak orang berdatangan dan berteriak, dan mengutuknya pergi ke neraka, mungkinkah ia dapat pergi ke neraka? “

Kepala desa :” Itu tidak mungkin karena dia adalah orang yang baik. Secara alamiah dia akan pergi ke surga, diangkat oleh kamma baiknya sendiri”.

Dengan menjawab pertanyaan ini, kepala desa memahami apa yang dimaksudkan Sang Buddha, yakni, Sang Buddha tak dapat menolong kita. Apakah kita mengapung atau tenggelam, adalah tergantung pada kamma kita. Itulah sebabnya mengapa ajaran Buddhis berbeda dengan ajaran lainnya, dengan kata lain Sang Buddha tidak berkata bahwa dengan menjadi seorang Buddhis, anda dijaminkan suatu tempat di surga. Tidak ada pilih kasih.

Apakah anda pergi ke surga atau tempat manapun, tergantung pada kamma anda sendiri. Kita tidak dapat menyuap surga untuk membukakan pintu bagi kita – ini adil.


Sumber :
- Only We Can Help Ourselves -Bhikkhu Dhammavuddho Maha Thera
- Samyutta Nikaya 42.6 : Paccha-bumika Sutta

Senin, 27 Mei 2013

Kisah Bao Zheng Legenda Anti Korupsi


Kisah Bao Zheng Legenda Anti Korupsi - Bao Zheng (999-1062) adalah seorang hakim dan negarawan terkenal pada jaman Dinasti Song Utara. Karena kejujurannya dia mendapat julukan Bao Qingtian yang berarti Bao si langit biru, sebuah nama pujian bagi pejabat bersih. Musuh-musuhnya menjulukinya Bao Heizi yang artinya si hitam Bao karena warna kulitnya yang gelap. Nama kehormatannya adalah Xiren.

Bao dilahirkan dalam keluarga sarjana di Luzhou (sekarang Hefei, provinsi Anhui). Kehidupan awalnya banyak mempengaruhi kepribadiannya.

Orang tuanya walaupun hidup pas-pasan, namun masih sanggup menyekolahkannya dengan baik. Ketika sedang mengandungnya, ibunya sering turun naik gunung untuk mengumpulkan kayu bakar. Di kampungnya dia banyak berteman dengan rakyat jelata sehingga dia mengerti beban hidup dan masalah mereka. Hal ini membuatnya membenci korupsi dan bertekad untuk menegakkan keadilan dan kejujuran.

Orang yang berpengaruh besar pada kehidupannya adalah Liu Yun, seorang pejabat kehakiman di Luzhou, seorang pejabat yang ahli dalam puisi dan literatur serta adil dan membenci kejahatan. Dia juga seorang yang menghargai intelektual dan bakat Bao. Di bawah pengaruh Liu, Bao bertekad untuk memberikan kesetiaannya terhadap kerajaan dan cintanya pada negara dan rakyat.

Pada usia 29 tahun, dia lulus ujian kerajaan tingkat tertinggi dibawah pengujian langsung dari kaisar hingga menyandang gelar Jinshi. Sesuai hukum dan peraturan saat itu yang mengatakan bahwa seorang sarjana Jinshi dapat ditunjuk menempati posisi penting dalam pemerintahan, maka Bao diangkat sebagai pejabat kehakiman mengepalai Kabupaten Jianchang.

Namun dia mengundurkan diri tak lama kemudian karena sebagai anak berbakti dia memilih pulang kampung untuk merawat orang tuanya yang sudah tua dan lemah selama sepuluh tahun. Baru setelah kematian orang tuanya, dia kembali diangkat sebagai pejabat, kali ini sebagai pejabat kehakiman Provinsi Tianchang. Ketika itu dia telah berumur 40 tahun.

Sebagai pejabat, Bao bekerja dengan adil, berani, dan berpegang pada kebenaran. Kecerdasan dan bakatnya membuat banyak orang kagum, termasuk Kaisar Song Renzong yang mempromosikannya dan memberikannya jabatan penting termasuk sebagai hakim di Bian (sekarang Kaifeng), ibukota Dinasti Song.

Dia terkenal karena pendiriannya yang tak kenal kompromi terhadap korupsi diantara pejabat pemerintahan saat itu. Dia menegakkan keadilan bahkan menolak untuk tunduk pada kekuasaan yang lebih tinggi darinya bila itu tidak benar termasuk pada Guru Besar Pang, ayah mertua kaisar yang merangkap guru besar yang membimbing putra mahkota sehingga Pang sangat menganggap Bao sebagai musuhnya.

Sejarah mencatat bahwa selama kurang lebih 30 tahun sejak dia memegang jabatan pertama kalinya, sebanyak lebih dari 30 orang pejabat tinggi termasuk beberapa mentri telah dipecat atau diturunkan pangkatnya olehnya atas tuduhan korupsi, kolusi, melalaikan tugas, dan lain-lain.

Dia sangat berpegang teguh pada pendiriannya dan tidak akan menyerah selama dianggapnya sesuai kebenaran. Enam kali dia melaporkan pada kaisar dan memintanya agar memecat pejabat tinggi, Zhang Yaozhuo, paman dari selir kelas atas kerajaan, tujuh kali untuk memecat Wang Kui, pejabat tinggi lain yang kepercayaan kaisar, bahkan dia pernah beberapa kali membujuk kaisar untuk memecat perdana mentri Song Yang.

Dalam kapasitasnya sebagai juru sensor kerajaan dia selalu sukses meyakinkan kaisar tanpa membawa kesulitan bagi dirinya, padahal dalam sejarah banyak juru sensor telah mengalami nasib yang buruk, seperti misalnya Sima Qian, sejarawan dan filsuf Dinasti Han yang dikebiri karena Kaisar Han Wudi tidak bisa menerima pendapatnya.

Dalam pemerintahan, teman dekatnya adalah paman kaisar yaitu Zhao Defang yang lebih dikenal dengan nama pangeran ke delapan (Ba Wang Ye). Di kalangan rakyat, Bao Zheng dikenal sebagai hakim yang adil dan berani memutuskan segala sesuatu berdasarkan keadilan tanpa rasa takut, juga mampu membedakan mana yang benar dan yang salah. Baginya siapapun termasuk kerabat dekat kaisar sekalipun harus dihukum bila terbukti bersalah melakukan pelanggaran. Bao meninggal tahun 1062 dan dimakamkan di makam keluarganya di Hefei, di kota itu juga dibangun kuil untuk mengenangnya.


Bao Zheng banyak menghiasi karya literatur dalam sejarah Tiongkok, kisah hidupnya yang melegenda sering ditampilkan dalam opera dan drama, kebanyakan kisah-kisah ini didramatisasi. Dalam opera biasanya dia digambarkan sebagai pria berjenggot dengan wajah hitam dan tanda lahir berbentuk bulan sabit di dahinya (beberapa versi menyebutkan tanda ini berasal dari luka ketika dia memberi hormat dengan sangat keras pada ibunya untuk menunjukkan baktinya).

Disebutkan juga bahwa kaisar menganugerahi Bao tiga guillotin (alat penggal) dalam tugasnya sebagai hakim. Ketiga gilotin itu mempunyai dekorasi yang berbeda dan digunakan untuk menghukum orang sesuai statusnya.

Guilotine kepala anjing untuk menghukum rakyat jelata, kepala macan untuk menghukum pejabat korup, dan kepala naga untuk menghukum bangsawan jahat. Dia juga dianugerahi tongkat emas kerajaan oleh kaisar sebelumnya untuk menghukum kaisar sendiri bila bersalah dan pedang pusaka kerajaan sebagai tanda berhak untuk menghukum siapapun termasuk anggota kerajaan tanpa melapor atau mendapat persetujuan dulu dari kaisar.

Dalam tugasnya dia dibantu oleh enam deputinya yaitu polisi Zhan Zhao, sekretaris Gongsun Zhi, dan empat pengawal Wang Chao, Ma Han, Zhang Long, dan Zhao Hu. Selain itu juga lima pendekar dari dunia persilatan yang dijuluki lima pendekar tikus. Keduabelas orang ini disebut "tujuh pendekar lima ksatria"

Rating peringkat pada Google dalam artikel yang berjudul Kisah Bao Zheng Legenda Anti Korupsi 9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.

Terima kasih anda telah membaca dan melihat foto video cerita artikel tentang Kisah Bao Zheng Legenda Anti Korupsi , Jika posting berjudul Kisah Bao Zheng Legenda Anti Korupsi merupakan artikel bermanfaat silahkan share atau berikan tanggapan anda pada kotak komentar di bawah. Sekali lagi terima kasih atas kesediaan anda membaca Kisah Bao Zheng Legenda Anti Korupsi.
dari: Liu Yu Leng